Di Jemari Manakah Dahulu Rasulullah Memakai Cincinnya?

Diposting pada



http://2.bp.blogspot.com/-RAbKbdqmBQg/VYixSO9xzEI/AAAAAAAAC8w/vt3r_Q0jMFg/s400/cincin%2Byang%2Bdiduga%2Bsebagi%2Bcincin%2B%2BRasulullah%2BSaw.jpg

TANYA: Dijemari manakah dahulu Rasulullah sallahu alaihi wa sallam
menaruh cincinnya? Sepengetahuan saya beliau menaruh di jari telunjuk
apakah hal ini benar? Terima kasih

JAWAB: Dikutip dari islamqa.info bahwa para ulama fiqih
rahimahumullah berbeda pendapat tentang tempat memakai cincin, apakah di
tangan kanan atau kiri. Hal itu ada dua pendapat.

Pendapat pertama, memilih kiri dan ini mazhabnya Hanafiyah, Malikiyah
dan Hanabilah. Terdapat dalam ‘Rasul Mukhtar, (5/230) dari kitab
Hanafiyah mengatakan, “(Di tangan kiri) seyogyanya di jari kelingking
bukan di sisa jemarinya. Bukan juga di tangan kanan. Qahastani
mengibaratkan dalam Muhith, “Diperbolehkan di taruh kanan kanan,
melainkan ia termasuk syiar orang Rofidhoh.”

Terdapat dalam ‘Hasyiyah Al-Adawi Ala Kifayatit Tolib, (2/360) dari
kitab Malikiyah, “Pilihan menurut jumhur termasuk Malik, memakai cincin
di tangan kiri sebagai anjuran. Dan dahulu Malik memakai disebelah
kiri.”

Abul Walid Al-Baji rahimahullah mengatakan, “Ahlus sunah bersepakat
(ijma’) memakai cincin sebelah kiri, dan ini pendapat Malik. Dan
dimakruhkan memakai cincin sebelah kanan. Sesungguhnya makan, minum dan
bekerja dilakukan sebelah kanan. Bagaimana memulai dengan mengambil
cincin sebelah kirinya kemudian di taruh di sebelah kanannya.”

‘Al-Muntaqa Syakh Muwato’, (7/256). Terdapat dalam ‘Kasyaful Qana’,
(2/236) dari kitab Hanabilah, “Memakai cincin di kelingking kiri itu
lebih utama dibandingkan memakai di kelingking kanan. Hal itu ditegaskan
dalam riwayat Sholeh dan Fadl. Bahwa beliau menetapkan dan menguatkan.
Dan dilemahkan dari periwayatan Atsram dan lainnya memakai cincin
sebelah kanan. Daroqutni dan lainnya mengatakan, “Yang terjaga bahwa
Nabi sallallahu alaihi wa sallam dahulu memakai cincin sebelah kiri.”

Mereka berdalil dengan berbagai macam dalil:

1. Dari Anas radhiallahu anhu berkata:

“Dahulu cincin Nabi sallallahu alaihi wa sallam di sini sambil menunjuk ke jari kelingking tangan kiri.” (HR. Muslim, no. 2095).

2. Perbuatan kebanyakan para shahabat. Bahkan Ibnu Abi Syaibah
menukilkan dalam Mushonnaf, (6/68) dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Hasan,
Husain, Ibnu Umar, Qosim, Salim dan lainnya dari ulama salaf bahwa
mereka memakai cincin di tangan kiri.

3. Memakai di tangan kiri itu lebih mudah bagi orang yang ingin
mengambilnya di tangan kanan untuk dipakai cincinnya. Dahulu kebanyakan
cincin dengan tujuan untuk stempel. Maka menaruh di sebelah kiri tepat
untuk merealisasikan tujuan ini.

4. Memakai sebelah kanan termasuk mazhabnya Rofidhah, anjurannya adalah menyalahi pelaku bid’ah.
Pendapat kedua, memilih sebelah kanan. Dan ini mazhabnya Syafiiyyah.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Yang kuat dan terkenal bahwa
sebelah kanan itu lebih utama. Karena ia hiasan dan kanan termasuk suatu
kemulyaan.” (Al-Majmu, 4/462).

Mereka berdalil akan hal itu dengan beberapa dalil:

Dari Nafi’ bahwa Abdullah memberitahukan sesungguhnya Nabi sallallahu
alaihi wa sallam membuat cincin dari emas dan dijadikan matanya di sisi
dalam tangannya ketika memakainya. Dan orang-orang membuat cincin dari
emas. Kemudian beliau naik mimbar memuji dan menyanjung kepada Allah
seraya bersabda, “Sungguh saya dahulu membuatnya. Dan sesungguhnya saya
tidak memakainya. Maka beliau buang dan orang-orang pada membuangnya.
Juwairiyah mengatakan, “Saya tidak mengira kecuali berkata di tangan
sebelah kanan.” (HR. Bukhori, no. 5876 dalam redaksi Muslim juga 2091
dengan jelas sebelah kanan juga)

2. Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu :

“Sesunguhnnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam memakai cincin perak
di sebelah kanan di dalamnya ada mata cincin dari Habasy dimana beliau
menjadikannya di samping telapak tangannya.” (HR. Muslim, no. 2094).

3. Dari Abdullah bin Ja’far radhiallahu anhu berkata:

“Dahulu Nabi sallallahu alaihi wa sallam memakai cincin di sebelah
kanannya.” (HR. Ahmad di Musnad, (3/265) di hasankan oleh para peneliti
dalam terbitan Muassasah RIsalah. Imam Bukhori mengomentari di dalamnya,
“Ini yang paling shahih periwayatnnya dari Nabi sallallahu alaihi wa
sallam dalam bab ini.” (Sunan Tirmizi, no. 1744).

4. Tirmizi mengatakan, “Dalam bab ini dari Ali, Jabir, Abdullah bin
Ja’far, Ibnu Abbas, Aisyah, Anas, dan Hadits Ibnu Umar adalah hadits
Hasan Shahih.”

5. mereka juga berdalil dengan apa yang Terdapat ketetapan dari Nabi
sallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau dahulu (Menyenangi sisi sebelah
kanan dalam memakai sandal, bersisir, bersuci dan dalam semua
urusannya.” HR. Bukhori, (168) dan memakai cincin termasuk berhias yang
dianjurkan memakainya di sebelah kanan.

Mereka menjawab terkait dalil yang digunakan pendapat pertama bahwa
hadits yang ada yang menetapkan bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam
memakai cincin di tangan kanan itu lebih shahih dan lebih banyak. Maka
seyogyanya dirojihkan (dikuatkan) dari lainnya.

http://1.bp.blogspot.com/-XqIUxSK64YA/UNH1HXcZ5oI/AAAAAAAAAZQ/AQbuy3N7Etw/s1600/cincin+salah.jpg

Ibnu Hajar Al-Haitsaimi rahimahaullah mengatakan, “Sebelah kanan itu
lebih utama karena ia paling banyak haditsnya.” Selesai ‘Tuhfatul
Muhtaj, (3/276).

Sebagaimana Imam Nawawi rahimahullah menjawab dalil mereka bahwa
memakai sebelah kanan termasuk syiar orang Rofidoh dengan mengatakan,
“Hal itu tidak terjadi pada kebanyakan negara sebagai syiar mereka. Jika
syiar saya akan tinggalkan sebelah kanan. Bagaimana anda meninggalkan
sunah karena kelompoh ahli bid’ah melakukannya. “selesai Al-Majmu’,
(4/462).

Sementara dalil jumhur bahwa sebagian memakai cincin di tangan kanan,
maka dijawab, “Bahwa Terdapat shahabat lainnya memakai cincin sebelah
kanan. Sebagaimana yang disebutkan dengan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah
dalam kitab ‘Al-Mushonaf, (6/65) dari Ibnu Abbas, Ja’far bin Muhammad,
Abdullah bin Ja’far, bahkan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah
mengatakan, “Terdapat dari Abu Bakar, Umar, dan sekelompok banyak dari
para shahabat dan tabiin dari penduduk Madinah dan lainnya memakai
cincin sebelah kanan.” Selesai Fathul Bari, (10/372).

Sebagian ulama berpendapat dianjurkan keduanya, memakai cincin di
kanan dan di kiri. Untuk mengamalkan menggabungkan hadits-hadits yang
ada.

Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan, “Hadits-hadits berbeda apakah di
sebelah kanan atau kiri. Semuanya sanadnya shahih.” Selesai Zadul Ma’ad,
(1/139)/
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan , “Yang shahih bahwa
sesuai sunah itu sebelah kanan dan kiri.” (Syarh Al-Mumti 6/110).

Kedua:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *