Singgasana Allah Azza wa Jalla Bergoncang Karena Kematian Sa`d bin Muâdz

Diposting pada




http://2.bp.blogspot.com/-tqCrOrAFLmE/U6FuF9nqy-I/AAAAAAAAAH4/MliHtIWeAV8/s1600/Saad-bin-Muadz.jpg

Namanya adalah Sa`d bin Muadz bin an-Nu`man bin Imri` al-Qais
al-Asyhali al-Anshâri Radhiyallahu anhu, seorang Sahabat memiliki
kedudukan yang agung. Dia masuk Islam sebelum Hijrah melalui Ibnu Umair
Radhiyallahu anhu. Ia pernah berkata kepada Kaumnya. “Ucapan laki-laki
dan perempuan kalian haram bagiku hingga kalian masuk Islam. Masuk,
Islamlah kalian! Sa`d bin Muadz Radhiyallahu anhu adalah orang yang
paling agung berkahnya bagi agama Islam.

Sa`d bin Muadz Radhiyallahu anhu ikut andil dalam perang Badar.
Beliau terkena lemparan anak panah pada perang Khandaq dan ia hidup
sebulan kemudian, setelah memberikan keputusan hukum bagi bani
Quraidzah. Lukanya semakin membengkak dan wafat pada tahun kelima
Hijrah.

Keberadaannya di sisi Rasulullah juga memberikan kekuatan bagi
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dalam sebuah syair
disebutkan:

فَإِنْ يَسْلَمِ السَّعْدَانِ يُصْبِحْ مُحَمَّدٌ بِمَكَّةَ لاَ يَخْشَى خِلاَفَ الْمُخَالِفِ

Jika dua Sa`d Radhiyallahu anhu masuk Islam, maka Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah tidak takut terhadap perbuatan
orang yang menyelisihi. (maksudnya adalah Sa`d bin Ubâdah, pembesar suku
Khazraj dan Sa`d bin Muadz pembesar suku Aus).

PERAN SA`D DALAM MEMBERIKAN KEPUTUSAN TERHADAP BANI QURAIZAH

Dalam kitab Fathul Bâri, Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan hadits
: “Sa`d bin Muâdz Radhiyallahu anhu terkena lemparan anak panah pada
urat nadi tangannya oleh seorang Quraisy yang bernama Hibbân bin
al-Ariqah/Hibbân bin Qais dari bani Maîsh bin Amir bin Luay. Lalu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membangun tenda untuk Sa`d
Radhiyallahu anhu di masjid, agar beliau bisa menjenguknya dari dekat.”

Selanjutnya Aisyah Radhiyallahu anhuma mengatakan : “Tatkala
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari Khandaq, beliau
meletakkan senjatanya lalu mandi. Kemudian datanglah seseorang
(Jibril)”.(Menurut riwayat lain : Jibril memberikan salam kepada kami.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkejut lalu berdiri. Setelah
itu aku juga berdiri. Tiba-tiba datang seorang Sahabat yaitu Bidihyatul
Kalbi Radhiyallahu anhu dan ia berkata: “Ini adalah Jibril. Ia datang
kepadaku agar aku pergi kepada bani Quraidzah.”) Kemudian Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam membersihkan debu-debu yang ada di muka
Jibril. Jibril berkata, “Engkau telah meletakkan senjatamu. Demi Allah
Azza wa Jalla , aku belum meletakkan senjataku. Keluarlah kepada
mereka!” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kemana?””

Kemudian Jibril mengisyaratkan kepada bani Quraizhah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar setelah itu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengepung mereka selama 15
atau 25 malam. Pengepungan tersebut membuat mereka merasa berat dan
Allah Azza wa Jalla juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka.
Dalam kondisi demikian, yaitu mereka merasa yakin bahwa Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya tidak akan pergi
meninggalkan mereka ; Pemimpin mereka Ka`b bin Asad berkata kepada
mereka. “Wahai kaum Yahudi! Sesungguhnya keadaan kalian adalah seperti
yang kalian lihat sekarang. Aku tawarkan kepada kalian tiga hal,
pilihlah mana yang kalian suka!” Mereka bertanya: “Apa saja itu”? Ka`b
menjawab:

“Pertama : Kita mengikuti lelaki ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam ), dan beriman kepadanya. Telah pasti bagi kalian bahwa dia
adalah seorang nabi yang diutus bagi kalian. Dia pula lelaki yang telah
disebutkan dalam kitab kalian. Jika kalian bersedia, maka darah, harta
benda, anak-anak dan istri-isri kalian akan aman.” Mereka menjawab:
“Kita tidak akan meninggalkan hukum Taurat selamanya dan kita tidak akan
mengambil hukum selainnya.” Lalu Ka`b berkata: “Jika kalian tidak
setuju dengan usulan ini, maka usulan

Kedua : Mari kita bunuh anak-anak dan istri kita. Kemudian kita
keluar mengangkat pedang melawan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para Sahabatnya. Kita tidak akan meninggalkan beban di belakang
kita, hingga Allah memberi keputusan antara kita dan mereka. Jika kita
binasa, maka selesailah urusannya ! Kita tidak meninggalkan keturunan
yang kita khawatirkan. Dan jika kita menang, maka, maka demi Allah,
kalian pasti akan mendapatkan wanita dan anak-anak lagi.” Mereka
bertanya: “Jika kita bunuh mereka, maka kesenangan hidup apalagi bagi
kita setelah kehilangan mereka?” Ka`b menjawab: “Jika kalian enggan
dengan ini, maka usulan

Ketiga : Pada sabtu malam, mungkin Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan para Sahabatnya akan memberi keamanan kepada kita. Maka,
menyerahlah ! mudah-mudahan kita bisa mengintai Muhammad dan pasukannya.
Mereka mengatakan: “(jika demikian), berarti kita mengotori hari sabtu
kita yang tidak pernah dilakukan oleh para pendahulu kita, kecuali
kamu.” Kemudian Ka`b berkata dengan nada tinggi karena marah: “Apa yang
membuat salah seorang dari kalian menjadi keras kepala setelah
dilahirkan ibunya semalam suntuk?”

Akhirnya, kemudian mereka mengirimkan utusan kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pesan: “Utuslah Abu Lubâbah bin
Abdul Mundzir, saudara bani Auf agar menemui kami. Kami akan meminta
pendapatnya.” Dulu mereka adalah sekutu suku Aus. Sementara harta dan
anak-anak Lubâbah juga ada di wilayah orang-orang yahudi. Kemudian
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya. Saat melihat
kedatangan kedatangan Abu Lubâbah, semua orang yahudi mengelu-elukannya.
Yang laki-laki bangkit dan mengerumuninya sedangkan para wanita dan
anak-anak menangis dihadapannya. Abu lubâbah sangat iba melihat keadaan
mereka. Mereka berkata: “wahai Abu Lubâbah, apakah kami harus tunduk
kepada keputusan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Dia menjawab:
“Begitulah” sambil memberi isyarat dengan tangannya yang diletakkan di
leher yang maksudnya adalah mereka akan dijatuhi hukuman mati. Setelah
itu Abu Lubâbah sadar bahwa dia telah mengkhianati Allah Azza wa Jalla
dan Rasul-Nya.

Seketika itu dia berbalik dan menemui Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia mengikat tubuhnya di salah satu
tiang masjid. Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkan tempatku hingga
Allah Azza wa Jalla memberi taubat kepadaku terhadap semua yang telah
aku lakukan.” [Lihat as-Siratun Nabawiyah, ibnu Hisyam hal.793-794]

Ibnu Ishâk rahimahullah menyebutkan : “Tatkala pengepungan sudah
sangat ketat, mereka pun tunduk kepada hukum Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam .” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Apakah kalian ridha dengan siapa pun orang yang memberikan hukum di
antara kalian?” Mereka menjawab: “Ya” . Maka beliau berkata :
“Serahkanlah kepada Sa`d.”

Dalam banyak kitab sirah disebutkan bahwa mereka tunduk kepada hukum
Sa`d Radhiyallahu anhu ; dan telah disepakati bahwa mereka telah tunduk
kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tunduk kepada hukum
Sa`d Radhiyallahu anhu. Alqamah bin Waqash Radhiyallahu anhu
meriwayatkan bahwa tatkala kondisi dan situasi terasa berat bagi mereka,
seseorang memerintahkan : “Tunduklah kalian kepada keputusan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam !” Tatkala mereka meminta petunjuk kepada
Abu Lubâbah, ia menjawab: “Kita tunduk kepada hukum Sa`d bin Muâdz
Radhiyallahu anhu ”. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengembalikan hukum kepada Sa`d bin Muâdz Radhiyallahu anhu .

https://mattchandra.files.wordpress.com/2016/03/images-8.jpg?w=809

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *